NHW Institut Ibu Profesional (IIP) Ke-3: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Alhamdulillah sudah memasuki pekan ke-3. Saat ini materinya mengenai “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah”. Wow, menurutku cukup sulit dibandingkan kedua NHW yang sebelumnya. Soalnya, dibutuhkan analisis, pendalaman tentang peran kita, baik di keluarga, lingkungan, istri, dan ibu. Kenapa kita ditempatkan sebagai seorang istri A, punya anak B, tinggal di lingkungan C. Butuh peresapan kalau menurut saya. Melihat sekitar, menalaah kebutuhan sekitar, dan menelaah kemampuan diri.  Ini 4 pertanyaan yang butuh lebih banyak refeksi diri 😀

👨‍👩‍👦‍👦Nikah

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Continue reading

Ketika Aku Melamarnya (Anton’s Story)

Assalamualaikum warahmatullah

Kali ini aku yang akan bercerita proses sebelum lamaran.

Awal mula cerita dari sebuah perkenalan yang biasa dan datar dengan Aisyah di suatu momen. Kemudian Kami dipertemukan kembali dalam sebuah tim untuk mewakili FTUI untuk memboyong piala kemenangan di sebuah perlombaan design product yang diadakan oleh UGM. Dinamika dalam tim tersebut membuat kami saling mengenal.

Ketika kami bertukar cerita mengenai impian. There is something in my heart, something about her. Something I can’t tell. Continue reading

Hikmah di Balik Lamaran

Karena telah selesai bercerita tentang lamaran yang menjadi pengalaman sendiri, Aku ingin memetik hikmah yang dapat diambil dari kisah tersebut, yang mungkin bisa membantu teman-teman yang membaca. Seperti misalnya, apakah yang harus dilakukan ketika seorang laki-laki datang melamar?, lamaran itu apa?, kriteria apa saja yang harus dilihat?, dsb..
Di sini Aku coba berusaha meringkas dari pengalaman itu sendiri dan ditambah dari literatur buku yang Aku baca “Surat terbuka untuk Para Istri”.

1. Melakukan persiapan diri sendiri sebelum datangnya seseorang yang dilamar atau yang datang melamar.

Persiapan ini baik untuk laki-laki dan juga perempuan. ‘Perbaikilah dirimu dan berhiaslah dengan pakaian taqwa’. Continue reading

Ada Lamaran, Ada Jawaban Bagian 2

Yups, kembali lagi menulis lanjutan kisah yang telah dimulai.. hhi 🙂 Ada Lamaran, Ada Jawaban Bagian 1 berakhir pada bagian Aku yang sedang mencari informasi terkait dengan dirinya. Aku menghubungi 3 orang yang menurutku cukup kukenal, walaupun sok kenal juga hehe. Awalnya aku ingin menambah satu orang lagi, tapi karena ingin menjaga berita ini agar tidak diketahui banyak orang, Aku mengurungkan niat itu. Aku hanya menambah 1 orang teman SMA untuk dimintakan pendapat dan saran bagaimana Aku harus menilai seorang laki-laki yang datang melamar. Hal apa saja yang harus kulihat.

Malam itu, di malam minggu, yang menurutku nuansanya begitu berbeda karena masih dalam posisi kaget tak percaya, yang benar-benar seperti mimpi, muka sumringah  (з´⌣`ε)  , Aku segera menghubungi ketiga orang tersebut dan temanku. Beda-beda jalur komunikasi yang digunakan. Dua orang, entre dan cons melalui salah satu aplikasi di HP, iter dengan menggunakan media sosial dan email, sedangkan teman SMA ku melalui SMS. Aku memberi tahu Dia untuk memohon izin bahwa aku bertanya tentang Dia kepada mereka bertiga, teman-temannya, Dia hanya menjawab iya (kalau menurutku Dia menjadi lebih kalem setelah mengungkapkan isi hatinya, deg-deg an kali ya, hihi ˆ⌣ˆ ) « bagian ini akan dijelaskan lebih detail di bawah :).

Continue reading

Ada Lamaran, Ada Jawaban Bagian 1

Melanjutkan cerita kemarin yang Aku tulis, “Ketika Dia Melamar”, tulisan ini proses ketika Aku harus menjawab. Lamaran sebuah permintaan dan yang diminta harus punya jawaban. Namun, jawabannya tidak ada kata benar dan salah, karena tergantung dari ketetapan hati yang dilamar, apakah Aku, sebagai yang dilamar, sudah siap atau masih menunda. Lamaran juga seperti peralihan ketegangan dari pihak yang melamar ke yang dilamar, dalam hal ini Aku, karena harus mempersiapkan jawaban yang akan berpengaruh ke kehidupan hingga aku meninggal dan akhiratku, penentu jannahku.

“Ya saya ingin menikahi anak bapak, Aisyah” ucapan Dia saat di ruang tamu. Dia memandangku dengan wajah penuh keyakinan. Sorot matanya begitu tegas dan tak ada keraguan. Kegugupan yang kulihat sebelum shalat ashar pun telah sirna. Kelegaan yang muncul di wajahnya, seperti melepas beban yang terus dipikirkan. Senyuman bahagia pun menghiasi sepanjang sore hingga malam hingga ia izin pamit pulang.

Continue reading

Ketika Dia Melamarku

Hari itu, di Sabtu sore yang cerah dan hangat, 3 Desember 2011, pukul 13.30 Dia datang silaturahmi ke rumah untuk bertemu dengan bapakku untuk berdiskusi lanjut terkait tanah berhutan yang dimiliki oleh ayahnya. Aku tahu Dia akan datang, namun, saat itu aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Sehari sebelumnya, perasaanku sedang sedih dan kesal, aku lupa penyebabnya apa, inginnya, kalau bisa ingin ku ‘tuktuk’… Hehe ((‾⌣‾)v peace ya Ant..)
Akhirnya aku ngga mau menemani dia di ruang tamu, biarkan dia langsung berdiskusi dengan Bapak. Aku hanya mengantarkan minum dan kue ringan di sela-sela diskusi. Walaupun, diam-diam di balik gorden, aku mendengarkan pembicaraan mereka hehe ˆ⌣ˆ .

Continue reading