Ternyata, Berpikir Kreatif itu Mudah lho!

Tajuk: Pengalaman Belajar Kreativitas di IIP

Judul: 

Ternyata, Berpikir Kreatif itu Mudah lho!

Oleh Aisyah Iadha Nuraini

Sebagai seorang lulusan teknik industri, biasanya saya selalu mengaitkan kreatif itu dengan inovasi produk yang terlihat. Ini pemikiran saya saja ya karena benda yang terlihat lebih mudah dibilang, “Wah, orang ini kreatif bisa buat benda ini”, dibandingkan inovasi dalam hal metode. Ya, sejenis google glass, barang elektronik terbaru, barang unik, iklan unik, intinya sesuatu yang bisa saya lihat.

Tak menyangka, saya bertemu lagi dengan materi tentang kreatif saat mengikuti kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional (IIP).

Ketika memasuki level 9, saya belum tahu kalau materinya tentang berpikir kreatif. Metode pemberian materi pun sedikit berbeda karena biasanya hanya berisi tulisan panjang yang dikirimkan oleh fasilitator, tetapi kali ini kami dipancing berpikir dengan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh fasilitator. Awalnya fasilitator memberikan gambar tentang judul berpikir kreatif (hal ini mengkotakkan pikiran kami bahwa selanjutnya pasti tentang kreatif), lalu masuk ke bagian pertanyaan mengenai gambar yang kami lihat. Gambar yang bisa memberikan 2 jawaban, melihat isi tulisan “Lift” atau puzzle. Lalu, kami diminta berpikir mengapa setiap orang bisa melihat hal yang berbeda, padahal gambarnya sama. Para member grup pun menjawab berbagai jenis jawaban masing-masing, hingga akhirnya tercetus kata sudut pandang. Ya, karena setiap orang bisa memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Inilah poin satu dari berpikir kreatif, ubah fokus, geser sudut pandang.

“Dalam mendampingi anak-anak kita perlu memiliki berbagai sudut pandang kreatif ketika melihat sebuah aksi anak-anak.”

Jadi teringat ketika saya mengikuti seminar oleh mba Vidya, seorang guru untuk PAUD. Beliau cerita, saat itu ia melihat seorang anak sedang bermain menyendokkan makaroni kering di atas 2 mangkuk dengan menggunakan sendok bebek. Yang mba Vidya lihat dari si anak yaitu menyendokkan makaroninya menggunakan tangan kiri dan juga terbalik menggunakan sendok bebeknya. Si anak menggunakan ujung yang lebih kecil (yang biasanya untuk dipegang), bukan yang besar. Rasanya saat itu sebagai orang dewasa, bergejolak ingin sekali membetulkan karena mba Vidya tahu, anak tersebut bukanlah kidal dan juga sudah sering bermain memindahkan makaroni. Akan tetapi, mba Vidya coba menahan diri dan hanya melihat dari jauh. Ternyata, setelah si anak menyendok dengan tangan kiri dan juga sendok bebek yang terbalik, anak tersebut mengatakan kepada mba Vidya begini, “Oh, ternyata kalau pake ujung sendok seperti ini, susah ya untuk menyendok. Kalau pakai tangan kiri lebih susah dibanding pakai tangan kanan”. Coba bayangkan kalau saja saat itu si anak dihentikan dengan dibetulkan, si anak tidak akan mendapat pengalaman discovery (menemukan) bagaimana menggunakan sendok yang benar. Dari kisah ini, menggambarkan poin pertama berpikir kreatif, ubah sudut pandang. Sebagai orang tua, kita harus berhati-hati dalam melihat kondisi dan apa yang sedang dilakukan anak. Harus sering dilatih sikap menahan diri untuk tidak mengoreksi anak. Biarkan anak bereksplorasi. Jangan sampai kita seperti gambar yang bapak ibu sering lihat, mengkotakkan dengan menggunting setiap box bicara anak (anak duduk, terus gurunya menggunting call out box bicara anak) supaya memiliki pemikiran yang sama dengan kita.

Lalu, materi tentang kreatif dilanjut dengan pertanyaan berupa gambar tulisan yang bersembunyi. Mirip sekali tulisan tersebut dengan ‘Be Creative’. Tentu, jawaban salah satu member langsung hal tersebut. Fasilitator meminta kembali, untuk berpikir ulang. Lalu, ada jawaban ‘Re Creative‘. Intinya, tidak jauh-jauh dari kata ‘Creative‘. Ketika dibuka jawabannya, ‘PF GPFATJVF’, jauh sekali berbeda. Penyebabnya apa? Karena asumsi kita sejak awal yang sudah dikotakkan dengan judul materi kreatifitas. So, poin kedua cara berpikir kreatif yaitu don’t assume. Jangan menyamakan asumsi kita sama dengan asumsi anak-anak. Untuk mengetahui ide atau pikiran anak kita bisa menanyakan, bukan membuat pernyataan.

Jadi teringat lagi sebuah kisah. Kita tentunya sering melihat seorang anak bolak-balik cuci tangan. Apa yang kita lakukan sebagai orang tua? Orang tua pasti berpikir kurang kerjaan, buang air, buang sabun, cuci tangan cukup sekali supaya bersih. Namun, apa ya yang dipikirkan oleh anak? Ternyata, mereka melihat prosesnya dan experience yang didapat. Mungkin untuk cuci tangan yang pertama kalinya mereka merasakan, “Oh tanganku kalau kena sabun dan digosok jadi licin”. Yang kedua kalinya, “Oh kalau tanganku ditepuk, air sabunnya muncrat ke mana-mana”, “Oh tanganku jadi keriput, dll”. Ya, ternyata mereka mempelajari sesuatu dari repetisi yang mereka lakukan. Bukan hanya melihat hasil, tanganku sudah bersih. Anak itu seperti ilmuwan kecil yang mencoba dan mencoba terus.

Kemudian, fasilitator memberi gambar 9 buah titik yang membentuk persegi, dan diminta membuat garis. Ternyata sulit ya, jawaban tidak langsung didapat. Alhamdulillah ada salah satu member yang berhasil, dan sama seperti jawaban saya, walaupun tidak saya kirimkan hehe. Ya, poin ketiga, outside the box thinking. Buka pemikiran kita dengan tidak membatasi anak-anak dengan pemikiran dan pengalaman yang pernah kita lalui.

Lagi-lagi jadi teringat dengan yang pernah saya alami di kelas system thinking saat kuliah dulu. Bagaimana cara kita keluar dari pemikiran yang biasa kita lakukan. Dosen saya memberikan gambaran yang mudah dicerna. Saat itu, beliau menerangkan sebuah metode supaya kita keluar dari kotak pikiran kita. Caranya yaitu, misal kita dihadapi oleh permasalahan untuk mengatasi orang yang merokok supaya berhenti. Kemudian, kita diminta untuk mengambil sebuah buku apapun, bebas. Buka halaman berapapun, bebas. Dan asal tunjuk sebuah kata yang ada dibuku itu. Misal kita secara tidak sengaja menunjuk sebuah kata ‘bunga’. Nah, dari kata bunga itu, gimana caranya kita menyelesaikan permasalahan perokok berhenti merokok. Lalu, muncullah ide-ide kreatif. Buat yang setiap merokok, diberikan sebuah bunga satu per satu bila mereka berhasil mengurangi sekotak rokok dalam seminggu. Atau, menggambarkan iklan sebuah bunga yang lama-lama mati karena dampak asap rokok yang mengenainya terus menerus. Atau,ide kreatif lainnya yang bersumber dari kata bunga. Benar-benar memicu ide kreatif supaya muncul. Soalnya, kata-kata yang muncul dengan menunjuk sebuah buku secara acak, tentunya juga bisa kata-kata yang tidak terduga dan jadi tantangan untuk mencari solusi dari kata tak terduga tersebut.

Selanjutnya, fasilitator di grup pun kembali memberikan tiga buah gambar produk yang inovatif. Yang menunjukkan bahwa ide kreatif bisa muncul dari 3 proses, yaitu evolusi (mengembangkan dari ide sebelumnya), sintesis (menggabungkan dari dua atau lebih ide yang sudah ada sebelumnya menjadi ide baru), dan revolusi (membuat dari hal baru yang belum pernah ada). Benar-benar metode penjelasan materi yang menarik dari fasilitator menurut saya untuk mengenalkan cara berpikir kreatif. Karena berinteraksi, jadinya materinya lebih menempel.

Saya pun jadi mengingat-ingat apakah saya sudah menjadi seorang ibu yang berpikir kreatif selama ini? Karena, jujur dalam pikiran saya sebagai seorang ibu, kreatif itu identik dengan mainan yang dibuat sendiri tanpa harus beli. Tapi, ternyata saya sudah menerapkan berpikir kreatif di beberapa hal. Seperti, saat membujuk anak supaya mau sikat gigi, saat mau mandi, makan, dan aktivitas anak yang biasanya cukup sulit diajak tergantung mood-nya dia.

Hmm.. apa lagi ya?
Tak terasa, pikiran mencari-cari hal kreatif apa yang sudah saya lakukan, mempertemukan saya pada tulisan Bu Wina Risman di buku parenting++ dengan judul Merombak. Tepat di 3 November 2017 saya membaca tulisan tersebut dan membuat saya memutuskan ikut tantangan mengikat ilmu ini. Bu Wina menjelaskan mengenai merombak cara berpikir. Pikiran kita memiliki kotak sendiri yang disebut comfort zone yang bila dibuka banyak hal yang bisa dieksplorasi. Perombakan, membuka salah satu dinding kotak kita tentunya butuh penyesuaian dan usaha terus-menerus. Cara merombak tidak perlu langsung dari hal yang besar, tapi bisa dari hal-hal kecil terlebih dahulu, seperti membacakan anak sebuah buku cerita. Tak terpikirkan oleh saya sebelumnya bahwa membacakan buku cerita bisa menjadi cara berpikir kreatif kita. Dengan menceritakan sebuah buku cerita, kita bisa bertanya pada anak apa yang mereka pahami, dan bagaimana bila alur ceritanya diubah, bila sudut pandang tokohnya diubah, atau bahkan dirombak ceritanya menjadi cerita yang baru. Contoh cerita tentang si Kancil yang identik dengan si Kancil yang nakal, bisa diubah menjadi si Kancil yang baik dan suka menolong. Atau bisa juga tokoh kancil diganti dengan tokoh burung hantu dengan cerita yang mirip atau terinspirasi atau berhubungan dengan cerita si Kancil. Hal ini mengajak otak kita berpikir lebih inovatif dan kreatif. Kemudian cara merombak cerita ini  bisa diadaptasi untuk merombak hal-hal lain dalam hidup.

Ternyata mengajak otak kita berpikir secara kreatif sudah sering saya lakukan dengan si anak. Saya sering sekali membacakan kisah dari buku cerita dan saya ganti-ganti tokoh dan alurnya, supaya saya sendiri tidak bosan menceritakannya.

Ya! Berpikir kreatif itu ternyata mudah lho, tidak sesulit seperti yang saya bayangkan sebelumnya, seperti harus membuat suatu mainan baru, beli barang-barang mahal buat jadi ide, atau berpikir terus sampai pusing. Yang paling penting untuk berpikir kreatif, ubah sudut pandang, jangan berasumsi, keluar dari kotak kita, dimulai dari hal-hal kecil, dan tahan untuk tidak mengoreksi apa yang sedang dilakukan anak. Yuk! Kita lihat lagi sekeliling cara berpikir kreatif kita, dan tinggal dilatih berulang-ulang.

📚 Sumber Bacaan/sumber inspirasi:

1. _EBook  membangun kreativitas sesuai fitrah, Supartinah, 2016_

2. _Diskusi kelas kreativitas bunda sayang Ibu Profesional, bersama fasilitator Diah Soehadi, 2017_

3. _Hasil perenungan tentang pola kreativitas di dalam keluarga Qurrota’ayun (Anton, Aisyah, Nouman, Maryam), 2017_

4. _Seminar Lebih Dekat dengan Montessori oleh Ibu Vidya Dwina Paramita, 26 November 2016_

5._Kelas System Thinking oleh Bapak Akhmad Hidayatno di Teknik Industri, antara 2010-2012_

6._Tulisan “Merombak” dari buku Parenting ++ oleh Bu Wina Risman, 2017_

#kelasbundasayang
#InstitutIbuProfesional
#ThinkCreative
#Bogor
#antonaisyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s