Sunnah Menyambut Kelahiran Buah Hati

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Sumber:

Tertarik ingin merangkum mengenai sunnah yang dianjurkan saat menyambut kelahiran buah hati. Insya Allah lagi persiapan juga hihi (#35minggu kehamilan). So, apa saja sunnah yang diabnjurkan ketika bayi, buah hati yang dinanti lahir ke dunia ini, berikut poin-poinnya:

  1. Mensyukuri nikmat Allah atas kehadiran sang buah hati

    Allah berfirman,

    هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلاً خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّآ أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ ءَاتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ فَلَمَّآ ءَاتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلاَ لَهُ شُرَكَآءَ فِيمَآءَاتَاهُمَا فَتَعَالَى اللهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

    “Dialah yang menciptakan kalian dari satu manusia dan menjadikan darinya istrinya, agar dia merasa tentram dengannya. Maka setelah dia mengumpulinya, istrinya mengandung kandungan ringan, terus merasa ringan beberapa waktu. Tatkala dia merasa berat, maka keduanya berdoa kepada Robbnya, seraya berkata: ‘Sesungguhnya jika engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang yang bersyukur.’ Tatkala Alloh memberi anak yang sempurna kepada keduanya, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Alloh terhadap anak yang telah dianugerahkan kepada keduanya. Maha suci Alloh terhadap apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al A’raaf: 189-190)

  2. Menyiapkan dan memberikan nama terbaik untuk buah hati

    Orang tua hendaknya memberi nama yang baik untuk buah hatinya. Berikut urutan nama terbaik yang diajarkan di dalam Islam
    1. Urutan pertama: Nama Abdullah dan Abdurrahman. Rasulullah ﷺ mengajari nama yang paling disukai oleh Allah. Dalam sebuah hadits Rosululloh ﷺ bersabda yang artinya, “Sesungguhnya nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrohman.” (HR. Muslim, Abu Dawud).
    2. Urutan kedua: Nama bentuk penghambaan pada asmaul husna lainnya. Seperti Abdul ‘Aziz, ‘Abdul Malik, Abdur Rozaq, Abdul Halim, dan Abdul Muhsin. [Lihat Tasyimatul Mawlud, hal. 33-34.]
    3. Urutan ketiga: Nama para Nabi dan Rasul Allah. Seperti Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, Isa dan Muhammad, yang intinya ada 25 nama Nabi yang disebutkan dalam Al Qur’an.

    إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ

    Dulu mereka memberi nama dengan nama-nama para Nabi mereka dan orang-orang shaleh dari kaum sebelum mereka.” (HR. Muslim no. 2135).

    4. Urutan keempat: Nama orang sholeh. Yang paling baik digunakan adalah nama para sahabat karena merekalah generasi terbaik dari umat ini. Seutama-utama dari mereka adalah para Khulafaur Rosyidin, yaitu Abdullah (Abu Bakr), ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali. Untuk anak perempuan bisa menggunakan nama istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ummahatul Mukminin).
    5. Urutan kelima: Nama lainnya yang memenuhi syarat dan adab. Syarat Pertama: Menggunakan bahasa Arab. Syarat Kedua: Memiliki susunan dan makna yang bagus. 

    Adab dalam pemberian nama yang sebisa mungkin dilakukan:

    Pertama: Menggunakan nama sesuai urutan terbaik yang telah kami jelaskan di awal.

    Kedua: Menggunakan nama yang terdiri dari huruf yang jumlahnya sedikit.

    Ketiga: Menggunakan nama yang mudah diucapkan di lisan.

    Keempat: Memudahkan orang yang mendengar untuk mengingatnya.

    Kelima: Menggunakan nama yang cocok dengan orang yang diberi nama dan tidak keluar dari kebiasaan yang dipakai dalam agamanya atau masyarakat sekitarnya. [Lihat syarat dan adab pemberian nama dalam Tasmiyatul Mawlud, hal. 39-43.]

    Diharamkan pemberian nama dengan:

    • Kata “Abdu” (hamba) yang disandarkan kepada selain Alloh seperti Abdul Ka’bah(Hambanya Ka’bah) dan Abdul Husain (Hambanya Husain), Abdul Muhammad dan lain-lain.
    • Nama yang tidaklah layak disandang oleh manusia seperti Malikul Mulk (Raja Diraja).
    • Nama-nama yang mutlak hanya milik Allah seperti Ar Rohman, Al Kholiq dan Al Ahad.

    Waktu Pemberian Nama

    Tentang hal ini, ada dua hadits yang berkaitan, yaitu:

    Pemberian nama pada hari lahir bayi tersebut. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    وُلِدَ لِيَ اللَّيلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْم أبِي إِبْرَاهِيمَ

    “Pada suatu malam, aku dianugrahi seorang bayi dan aku namai ia dengan nama ayahku, yakni Ibrahim.” (HR. Muslim)

    Pemberian nama pada hari ke tujuh dari hari kelahiran. Hadits yang paling shahih tentang hal ini adalah hadits Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    كلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذبَحُ عَنهُ يَومَ سَابِعِهِ وَ يُحلَقُ رَأْسُهُ وَ يُسَمَّى

    “Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama pada hari itu juga.” (HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah, Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

    Syaikh Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad mengatakan bahwa perbedaan yang terjadi dalam hal ini hanyalah perbedaan yang menunjukkan keragaman, artinya dalam hal ini tidak ada pembatasan. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

  3.  Mentahnik

    وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ.

    “(Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.” (HR. Muslim)

    Tahnik adalah melumurkan kurma ke langit-langit mulut bayi setelah kurma tersebut dilumat. An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para pakar bahasa menyatakan bahwa tahnik adalah mengunyah kurma atau semacamnya, kemudian menggosokkannya ke langit-langit mulut si bayi”. Ketika si buah hati telah dilahirkan, maka seorang ayah hendaknya mentahnik langit-langit mulut si bayi dengan buah kurma yang telah dilumatkan.
    Yang digunakan untuk tahnik adalah tamer (kurma kering). Jika tidak ada, maka bisa menggunakan ruthob(kurma basah yang baru dipanen). Jika tidak ada, baru menggunakan sesuatu yang manis. Dengan madu saat itu lebih bagus daripada yang lain.
    Tahnik itu disunnahkan dilakukan untuk bayi yang baru lahir. Yang melakukan tahnik boleh laki-laki atau perempuan. Tahnik tersebut dilakukan di pagi hari ketika dilahirkan. Sunnah tahnik masih tetap ada, namun dilakukan tidak mesti pada orang sholih, boleh dilakukan oleh orang tuanya si bayi sendiri dan diberikan pada anaknya. Wallahu a’lam.

  4. Mendoakan

    Kemudian doakanlah buah hati Anda dengan kebaikan dan keberkahan. Misalnya dengan do’a.

    بَارَكَ اللهُ فِيْه.ِ

    “Semoga Allah memberikan berkah atasnya.”

  5. Aqiqah

    Kemudian pada hari ketujuh, disunnahkan bagi kedua orang tua untuk meng’aqiqahi anaknya, mencukur rambutnya dan diberikan nama. Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى.

    “Setiap anak tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih (kambing) untuknya ada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberikan nama.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2838), at-Tirmidzi (no. 1522), an-Nasa-i (VII/166), Ibnu Majah (no. 3165), dan lainnya. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1165).]

    ~‘Aqiqah hanya boleh dengan kambing. Aqiqah pada anak laki-laki dianjurkan dengan dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan dengan satu ekor kambing. Namun jika tidak mampu, boleh pula bagi anak laki-laki dengan satu ekor kambing dan itu dianggap sah. Wallahu a’lam.
    ~Jenis kelamin kambing ‘aqiqah adalah boleh jantan atau pun betina. Hal ini berdasarkan hadits yang di-riwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2835), at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya.
    ~Tidak boleh melumuri kepala bayi dengan darah kambing ‘aqiqah. Perbuatan ini merupakan amalan bid’ah serta perbuatan kaum Jahiliyyah.
    ~Boleh memotong atau mematahkan tulang kambing sembelihan ‘aqiqah, sebagaimana yang lainnya.
    ~Orang tua yang ber’aqiqah boleh makan dagingnya, bersedekah, memberi makan orang lain, atau meng-hadiahkan kepada kaum muslimin.
    ~Boleh membagikan daging yang belum dimasak, akan tetapi yang afdhal (lebih utama) adalah dimasak terlebih dahulu
    ~Bagi orang dewasa yang belum di’aqiqahi pada waktu bayinya, tidak ada tuntunan dari syara’ untuk meng’aqiqahi dirinya sendiri. Hal ini karena lemahnya hadits yang berkenaan dengan hal tersebut.

  6. Mencukur rambut pada hari ketujuh dan bersedekah.

    Disunnahkan mencukur rambut secara merata, yaitu digundul (dibotak), lalu bersedekah senilai dengan perak seberat rambutnya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah.

    اِحْلِقِى رَأْسَهُ وَتَصَدَّقِى بِوَزْنِ شَعْرِهِ فِضَّةً عَلَى الْمَسَاكِيْنِ.

    “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak seberat rambutnya kepada orang-orang miskin.” [Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/390, 392) dan al-Baihaqi (IX/304). Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1175) dan Tuhfatul Mauduud (hal. 159-163).]
    Dalam hadits ‘Ali bin Abi Tholib di atas terdapat pelajaran untuk bersedekah dari rambut bayi yang telah dicukur (digundul). Caranya adalah rambut bayi tersebut ditimbang, setelah itu sedekah dengan perak sesuai dengan hasil timbangan tadi, atau boleh pula sedekah dengan uang seharga perak. Misalnya berat rambut yang telah digundul adalah 1 gram, berarti sedekahnya adalah dengan 1 gram perak. Atau boleh pula dengan uang seharga 1 gram perak tadi. Misalnya harga 1 gram perak ketika itu adalah Rp. 5.650[2], berarti sedekahnya adalah dengan Rp. 5.650,-. Sedekah ini diserahkan kepada fakir miskin yang membutuhkan.

  7. Khitan

    Khitan adalah memotong atau tempat memotong kulit yang menutupi kepala dzakar laki-laki dan memotong atau tenpat memotong kulit yang menyerupai jengger ayam yang berada di atas farji perempuan (kelentit).[Lihat Tuhfatul Maudud (hal. 257-258) dan Fat-hul Baari (X/340).]
    Disyari’atkannya khitan adalah berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ: َالإِخْتِتَانُ، وَاْلاِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمُ اْلأَظْفَارِ، وَنَتْفُ اْلإِبِطِ.

    “Fitrah itu ada lima hal: khitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, menggunting kuku, dan mencabut bulu ketiak.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5891, 6297), Muslim (no. 257), Abu Dawud (no. 4198), at-Tirmidzi (no. 2756), an-Nasa-i (I/13-14), Ibnu Majah (no. 292) dan Ahmad (II/229, 239, 410, 489)]
    Kewajiban khitan bersifat umum untuk laki-laki dan perempuan berdasarkan banyaknya riwayat tentang dikhitannya perempuan pada zaman Nabi dan selanjutnya hingga hari ini.

    Di antara riwayat yang menyebutkan khitan bagi perempuan adalah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu ‘Atiyah, “Apabila engkau mengkhitan (perempuan), maka potonglah sebagian kelentitnya, janganlah engkau memotong semuanya. Karena yang demikian itu dapat membaguskan wajah dan lebih baik bagi suami.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab Taarikhnya (V/327). Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 722).]

    Faedah hadits:
    1. Adanya tukang khitan bagi perempuan di zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini menunjukkan bahwa khitan bagi perempuan pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu kelaziman dan keharusan.

    2. Hadits di atas menunjukkan bahwa khitan bagi perempuan telah dikenal di kalangan Salaf sebagai-mana diterangkan Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah (II/344-349, hadits no. 722).

    Mengenai waktu mengkhitan bayi tidak ada satu dalil pun yang shalih dan sharih (jelas) yang menentukan waktunya dengan pasti. Sebagian ulama berpendapat tentang disukainya mengkhitan anak laki-laki sebelum berusia tujuh tahun. Hal ini berdasarkan pada perintah syari’at agar menyuruh anak kecil untuk shalat ketika umur mereka tujuh tahun.
    Imam al-Mawardi rahimahullaah berkata, “Khitan memiliki dua waktu; waktu yang wajib dan waktu yang mustahab (dianjurkan). Adapun waktu yang wajib adalah ketika sudah baligh dan waktu yang mustahab adalah sebelum baligh, dan boleh memilih pada hari ketujuh dari kelahirannya. Dan dianjurkan agar tidak mengakhirkan dari waktu yang mustahab, kecuali karena ada udzur.”[ Lihat Fat-hul Baari (X/342).]
    Ini untuk waktu khitan bagi anak laki-laki, sedang-kan bagi anak perempuan biasanya dilakukan beberapa setelah kelahirannya.[Lihat Tuhfatul Mauduud (hal. 301-308).]
    Apabila seorang laki-laki atau perempuan belum dikhitan sampai dewasa karena tidak mengetahui hukum wajibnya atau keduanya baru masuk Islam, maka keduanya tetap berkewajiban untuk berkhitan. Ini adalah jawaban seluruh ahli ilmu.[Lihat Tuhfatul Mauduud (hal. 327-333).]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s