Mimpi suami = Mimpi seorang istri

Ketika “sah” dikumandangkan dalam akad, status pun berubah, single to married, girl to wife, and boy to husband. Perubahan ini tentunya mempengaruhi life plan hidup masing-masing. Termasuk saya, tentunya setelah akad berlangsung.
Seiring  berjalannya waktu menuju hari H pernikahan, banyak teman bertanya terkait dengan kehidupan saya telah menikah, mau jadi apa, mau ngapain, apa yang dilakukan kerjakah atau apa..dll. Satu hal yang sudah pasti saya jalani hidup, saya hidup karena Allah, saya ingin masuk surga. Langkah masuk surga ketika sudah menjadi seorang istri berada pada ridho suami. Yup, saya ingi berbakti sebaik-baiknya ketika saya sudah menikah, menyenangkan hatinya selalu, menjadi pendukung kapanpun dia butuhkan, menjadi dewasa saat ia ingin dimanja, menjadi istri yang menyenangkan dipandang matanya, mengingatkan dengan lemah lembut ketika ia melakukan kesalahan, mencintai keluarganya, menyenangkan perutnya dengan olahan sendiri, dan tentunya ketika punya keturunan, mendidik secara full time keturunan agar menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada orang tua. Yup, itu keinginan saya ketika saya menjadi istri, saya ingin mendapat ridho suami untuk masuk surga dan berkumpul bersamanya kelak di surga nanti, membuat bidadari di surga cemburu dengan saya karena sayalah yang dipilih olehnya, hehe.

Bersama lebih baik ^^

Bersama lebih baik ^^

Beberapa hari (bulan) membuat saya berpikir, melihat gimana caranya saya bisa mewujudkan keinginan saya itu, menjadi istri yang berbakti kepada suami. Banyak buku yang saya pelajari, artikel yang saya baca. Jujur, dari artikel yang saya baca, belum pernah saya menemukan bahwa seorang istri harus bekerja lebih keras dan berusaha keras mencapai mimpinya untuk menjadi istri yang baik. Saya pun mengacu dengan ajaran Islam tentunya cara menjadi istri.

Seorang wanita apabila telah menikah maka suaminya lebih berhak terhadap dirinya daripada kedua orangtuanya. Sehingga ia lebih wajib menaati suaminya. Allah berfirman:
“Maka wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada (bepergian) dikarenakan Allah telah memelihara mereka…” (QS. An-Nisa’: 34)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam haditsnya:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ

“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu. Bila engkau perintah, ia menaatimu. Dan bila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu.”

Dalam Shahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”

Dari Ummu Salamah, ia berkata, Rasulullah n bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا رَاضٍ عَنْهَا دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
“Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”
At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.”

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , beliau bersabda:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا لِأَحَدٍ أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits ini hasan.”

Allah memerintahkan untuk taat kepada suami. Hal ini pun menyadarkan saya, terkait dengan mimpi-mimpi saya sebelum saya menikah. Saat ini, saya pun, insya Allah, ketika saya telah menikah kelak, mimpi saya berubah (bukan lagi mimpi ketika saya single), tetapi mimpi saya menjadi mimpi suami. Mimpi-mimpi yang ingin diraih oleh suami, itulah mimpi saya. Saya menjadi pendukung 100% di belakangnya. Ketika mimpi itu tercapai, mimpi saya pun tercapai🙂. Itulah mimpi pertama saya ketika saya menikah nanti.
Mungkin ada beberapa orang yang akan bertanya terkait dengan mimpi saya yang dulu ke mana. Saya tidak melenyapkan mimpi saya yang dulu. Saya yakin suami saya kelak juga ingin saya meraih mimpi saya dulu dengan penuh semangat. Saya hanya merubah jalur mimpi saya, saya tetap ingin aktif dalam memberikan manfaat kepada masyarakat, menggunakan ilmu pengetahuan yang saya miliki, tapi tetap prioritas saya adalah suami dan keluarga. Saya insya Allah yakin saya tetap bisa melakukannya, menebar manfaat dan aktif dengan tidak melanggar ketentuan Islam dan suami tentunya.

Berikut ini beberapa FAQ yang ditanyakan ke saya ataupun saya yang menanggapi beberapa artikel yang saya baca:
1. Setelah menikah kamu mau ke mana?
Hmm.. Mau ikut suami hhe :p. Yang jelas apa yang akan aku laksanakan setelah itu harus diridhai oleh suami. Mungkin bila suami memintaku untuk bekerja di industri dengan alasan yang baik, aku akan bekerja.
Aku tetap ingin menjadi seorang pendidik. Untuk mewujudkannya salah satunya adalah dengan melanjutkan sekolah. Yup, ketika aku melanjutkan sekolah, aku ingin dirinya bersamaku dan kita melanjutkan sekolah bersama-sama. Menurutku tidak ada yang tidak mungkin untu dilaksanakan selama kita memohon kepada Allah.

2. Sayang banget dunk potensimu, udah sekolah tinggi-tinggi, tapi ga dimanfaatin?
Ngga qo. Bahagia itu sederhana. Potensi yang dimiliki tinggal disalurkan ke aktivitas lain dan bisa tetap bermanfaat untuk orang lain.

3. Kamu tenggelam dunk nanti, seakan-akan menghilang?
Ngga ^^. Aku bisa berkarya untuk bangsa ini. Banyak orang bilang agar bangsa ini berubah, kuncinya dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Kemudian dari keluarga yang baik akan menularkan ke keluarga yang lain. Jadi saya ingin membangun keluarga yang berkualitas.

4. Bagaimana dengan karir mu?
Aku punya karir sebagai ibu rumah tangga, smart mom, suami sukses, anak-anak sekolah lebih tinggi. Karir di sini beda ya dengan targetan. Ada kekhawatiran yang muncul bila aku terlalu mengejar karir, aku takut kalau memiliki karir yang tinggi, namun tidak ada manfaatnya untuk keluarga, dan malah mengorbankan keluarga untuk kesenangan pribadi. Dalam bayanganku ujung-ujungnya itu seperti untuk diri sendiri, kesenanganku menjalankannya. Terkadang, yang aku lihat, tujuan orang berakarir untuk dirinya bukan yang lain. Aku ingin egoku dikurangi, dan yup, menjadi seseorang paling penting dibalik kesuksesan suami🙂 dan bersama suami mencapai mimpi kami berdua.

Yup, semua tulisan di sini hanya opini saya saja. Setiap manusia bebas memiliki jalur pikiran masing-masing, namun jangan sampai melanggar aturan Islam dan kodratnya perempuan (perempuan adalah yang dipimpin laki-laki, laki-laki adalah pemimpin di dalam rumah tangga). Sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s