Hikmah di Balik Lamaran

Karena telah selesai bercerita tentang lamaran yang menjadi pengalaman sendiri, Aku ingin memetik hikmah yang dapat diambil dari kisah tersebut, yang mungkin bisa membantu teman-teman yang membaca. Seperti misalnya, apakah yang harus dilakukan ketika seorang laki-laki datang melamar?, lamaran itu apa?, kriteria apa saja yang harus dilihat?, dsb..
Di sini Aku coba berusaha meringkas dari pengalaman itu sendiri dan ditambah dari literatur buku yang Aku baca “Surat terbuka untuk Para Istri”.

1. Melakukan persiapan diri sendiri sebelum datangnya seseorang yang dilamar atau yang datang melamar.

Persiapan ini baik untuk laki-laki dan juga perempuan. ‘Perbaikilah dirimu dan berhiaslah dengan pakaian taqwa’. Hal ini yang mendasari(pertama harus dilakukan). Karena laki-laki yang baik itu untuk wanita yang baik, dan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Hal ini terdapat pada ayat Al-Quran surat An-Nur:26.

alkhabiitsaatu lilkhabiitsiina waalkhabiitsuuna lilkhabiitsaati waalththhayyibaatu lilththhayyibiina waalththhayyibuuna lilththhayyibaati ulaa-ika mubarrauuna mimmaa yaquuluuna lahum maghfiratun warizqun kariimun
26. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) [1035].[1035] Ayat ini menunjukkan kesucian ‘Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau.

Allah telah menjanjikan bagi orang-orang bertaqwa jalan keluar atas setiap masalah dan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. At-Thalaq: 2-3).

fa-idzaa balaghna ajalahunna fa-amsikuuhunna bima’ruufin aw faariquuhunna bima’ruufin wa-asyhiduu dzaway ‘adlin minkum wa-aqiimuu alsysyahaadata lillaahi dzaalikum yuu’azhu bihi man kaana yu/minu biallaahi waalyawmi al-aakhiri waman yattaqi allaaha yaj’al lahu makhrajaan
2. Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
wayarzuqhu min haytsu laa yahtasibu waman yatawakkal ‘alaa allaahi fahuwa hasbuhu inna allaaha baalighu amrihi qad ja’ala allaahu likulli syay-in qadraan
3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Mudah-mudahan, karena ketaqwaan kita, Allah berkenan memberikan jalan keluar bagi setiap urusanmu, termasuk urusan jodoh dan pernikahan. Jodoh itu Allah yang mengatur. Panjatkanlah doa kita kepada Allah dengan segenap ketulusan dan keikhlasan. Setelah berdoa dan berusaha, serahkanlah semuanya kepada Allah, dan bertawakkallah kepada-Nya. Jodoh itu disebut dengan jodohnya, ketika selesai dilakukan akad secara sah. Walaupun telah melamar, belum tentu dia menjadi jodohmu. Jadi berdoa merupakan suatu hal yang penting dan berkelanjutan :’).

2. Meluruskan niat

Hendaklah yang menjadi tujuan menikah adalah semata-mata mencari ridha Allah. Untuk merealisasikan fitrah yang telah Allah gariskan atas umat manusia, memelihara diri dari gejolak syahwat yang diharamkan, membangun rumah tangga muslim yang menjadi sumber sakinah serta kedamaian, dan merupakan sunnah Rasulullah salallahu allaihi wassalam. Ikhlaskan niat dalam membina hidup berumah tangga (QS. Al-an’am: 162).

qul inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbi al’aalamiina
162. Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Ketika akan melamar dan menjawab lamaran, selalu niatkan karena Allah.. Bahkan bila menolak yang datang melamar :’)

3. Pilihlah calon suami atau istri yang shaleh dan taat beragama

Hal ini merupakan hal yang harus diperhatikan. Jangan sampai salah menentukan pasangan. Sebab, bila salah akan fatal akibatnya. Mengapa? Coba kita pikirkan bersama… Apabila seorang wanita menikah pada usia 20 tahun, kedua orang tuanya lah orang yang paling dekat dan bergaul dengannya, semenjak lahir hingga usia 20 tahun. Dan semenjak dia mengikat tali pernikahan sampai maut datang menjemputnya, suamilah orang yang paling dekat dengannya. Sekiranya, ia meninggal di usia 63 tahun, maka selama 43 tahun suamilah orang yang paling dekat dengan kehidupannya. Kedudukan suami tentu lebih dari kawan karib. Ia adalah pasangan hidup, pendamping, sahabat, dan tempat berbagi kehidupan, berupa makanan, minuman, perasaan sedih maupun senang. Suami yang shaleh akan memberikan peluang dan kemudahan bagimu untuk menjalankan agama, tolong menolong denganmu untuk mencari ridha Allah. Rasulullah salallahu allaihi wassalam bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)

Al-Hasan al-Bashri berkata, “nikahkanlah putrimu dengan lelaki yang bertaqwa kepada Allah. Karena bila ia mencintainya maka ia akan memuliakannya. Dan apabila ia membencinya maka ia tidak akan menzhaliminya.”
Sedangkan untuk memilih seorang istri, Rasulullah salallahu allaihi wassalam bersabda: “Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.” (HR Muslim). Hadits ini juga bisa diterapkan bila mencari calon suami.
Termasuk perkara yang perlu diperhatikan dalam memilih pasangan adalah kesetaraan antara suami istri. Kesetaraan ini meliputi semua aspek baik agama, tingkat pendidikan, maupun kedudukan sosial. Tercakup di dalamnya kesamaan pemikiran dan adar kebiasaan. Meskipun kesetaraan selain dalam hal agama bukan termasuk syarat sah pernikahan, namun ini akan lebih memudahkan keduanya dalam meraih keharmonisan rumah tangga.

4. Meringankan mahar

Wanita yang paling mudah maharnya adalah wanita yang paling banyak berkahnya. Rasulullah salallahu allaihi wassalam bersabda: “termasuk keberkahan seorang wanita ialah mudah urusan peminangannya dan mudah maharnya.” (Hadits hasan riwayat Ahmad dan Al-Hakim, dihasankan oleh Al-Albani dalam jaami’ ash-Shaghir (3998)). Jadi, dalam hal lamaran sebenarnya tak perlu terlalu merepotkan berbagai pihak dan memberikan persyaratan yang sulit bagi si laki-laki. Dalam Islam, ketika seorang pemuda meminta langsung ke wali nikah seorang perempuan hal itu telah sah sebagai khitbah atau lamaran. Namun, memang bila bersama dengan orang tua sang pemuda alangkah lebih baik karena dapat menunjukkan restu dan dukungan dari orang tua, tetapi selama itu tidak mempersulitnya. Dalam hal mahar pun demikian, jangan sampai karena telah memberikan patokan mahar yang tinggi sebelum menikah, laki-laki yang datang mundur karena tak sanggup. Jangan jadikan mahar menghalangi sebuah pernikahan ataupun kedatangan laki-laki yang baik akhlak dan agamanya.

5. Nazhar

Pelaksanaan nazhar atau melihat calon mempelai wanita, akan lebih mendorong penerimaan dan lebih melanggengkan kasih sayang. Demikian juga dapat menghindarkan berbagai hal yang tidak diingini di kemudian hari. Oleh karena itu, Rasulullah salallahu allaihi wassalam berkata kepada Al-Mughirah yang telah meminang seorang wanita: “pergi dan lihatlah wanita itu, karena hal itu akan bisa lebih mengekalkan cinta kalian berdua” (Hadits hasan riwayat Ahmad dan Al-Hakim)

6. Jangan lupa melaksanakan Istikharah

Apabila telah datang seorang pria meminangnya hendaklah kita mempertimbangkannya dengan pikiran yang sehat dan bermusyawarah dengan orang yang kita pandang layak serta beristikharah kepada Allah. Karena shalat istikharah adalah ibadah kepada Allah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah salallahu allaihi wassalam. Jika pernikahan itu terjadi maka itu semua terjadi dengan ilmu dan qudrah Allah. Dan jika pernikahan itu urung terjadi maka itulah yang terbaik menurut ilmu Allah dan qudrah-Nya. Seperti yang telah dijelaskan, shalat istikharah dan bertanya kepada orang-orang yang berilmu merupakan salah satu langkah penting dalam menjawab lamaran. Jangan hanya didasari pada perasaan diri. Dan tak lupa, bagi seorang perempuan, restu seorang wali nikah merupakan hal yang terpenting.

7. Jauhilah segala perkara yang mengundang kemurkaan Allah

Diantara perkara-perkara itu adalah pacaran sebelum menikah. Di mana dapat menimbulkan khalwat, ikhtilath, dan berbagai zina anggota tubuh, hingga zina yang sebenarnya. Walaupun sudah menerima lamaran, hal ini haruslah dihindari. Jangan sampai menodai proses yang sedang dijalankan dengan sesuai ajaran Islam.

8. Pilihlah calon istri yang belum dipinang oleh seseorang

Hal ini merupakan hal penting bagi laki-laki untuk mengetahui calon istri yang akan dipinang apakah telah dipinang oleh orang lain atau belum. Karena di dalam Islam, hal ini tidak diperbolehkan.

9. Segeralah menikah

Poin utama bagi laki-laki yang datang melamar yaitu membawa tanggal atau bulan pernikahan yang tentunya telah disetujui oleh orang tuanya. Yang kemudian disetujui oleh keluarga perempuan. Sebenarnya, bersegera merupakan hal yang sangat baik, dalam kasus saya, terdapat hal-hal yang tidak bisa dihindari untuk melakukan penundaan. Bukan tidak ingin bersegera mungkin, namun hal-hal tersebut dipandang merupakan pilihan yang baik. Dan tak perlu diceritakan kepada orang lain. Satu-satunya jalan bila ini terjadi yaitu berdoa kepada Allah.. Karena Allah lah yang menentukan yang terbaik buat kita. Dan bersabarlah.. :’) insya Allah, waktu yang terbaik pun akan tiba..

Segitu dulu sharing hikmah yang Aku ambil dari pengalaman menjawab lamaran kemarin. Semoga bermanfaat..

^AIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s