Ada Lamaran, Ada Jawaban Bagian 1

Melanjutkan cerita kemarin yang Aku tulis, “Ketika Dia Melamar”, tulisan ini proses ketika Aku harus menjawab. Lamaran sebuah permintaan dan yang diminta harus punya jawaban. Namun, jawabannya tidak ada kata benar dan salah, karena tergantung dari ketetapan hati yang dilamar, apakah Aku, sebagai yang dilamar, sudah siap atau masih menunda. Lamaran juga seperti peralihan ketegangan dari pihak yang melamar ke yang dilamar, dalam hal ini Aku, karena harus mempersiapkan jawaban yang akan berpengaruh ke kehidupan hingga aku meninggal dan akhiratku, penentu jannahku.

“Ya saya ingin menikahi anak bapak, Aisyah” ucapan Dia saat di ruang tamu. Dia memandangku dengan wajah penuh keyakinan. Sorot matanya begitu tegas dan tak ada keraguan. Kegugupan yang kulihat sebelum shalat ashar pun telah sirna. Kelegaan yang muncul di wajahnya, seperti melepas beban yang terus dipikirkan. Senyuman bahagia pun menghiasi sepanjang sore hingga malam hingga ia izin pamit pulang.

#1 Tanggapan Bapak, My First Love

Bapak pun setelahnya menimpali bahwa beliau menyerahkan keputusan kepadaku. Hanya yang terpenting bahwa Aku baru boleh(diizinkan) menikah setelah lulus S1 dan Dia dapat bertanggung jawab menghidupiku kelak, menjadi pemimpin yang baik, menyayangiku, memperlakukanku dengan baik.. (Maklum anak perempuan satu-satunya.. ˆ⌣ˆ ).
Walaupun, ada beberapa hal yang membuat khawatir bagi Bapak.. Ya! (Aha!).. Saat itu Dia belum lulus dan berpenghasilan tetap (walaupun dia ngajar privat). Mungkin dalam pikiran bapak ‘qo anak ini nekat tenan arep lamar anakku ora ono modal opo-opo’.. (Ilustrasi dibuat berdasarkan bayangan penulis (‾⌣‾)♉ ). Otomatis Bapak pun bertanya, “anton, kan kamu saat ini belum lulus, belum memiliki pekerjaan tetap, bagaimana bisa, berani melamar anak saya? Apa yang membuatmu berani?”. “Saya yakin atas pertolongan Allah. Dalam sebuah hadits pun disebutkan bahwa seorang pemuda yang berniat untuk menikah, ia akan dibantu oleh Allah. Bismillah..” Dengan penuh keyakinan Dia menjawab pertanyaan itu(terlihat sangat dewasa, dan jawaban yang tak bisa terpatahkan kalau menurutku..). Bapak pun kembali menanyakan mengenai alasan mengapa harus sekarang, saat ini, melamarnya, mengapa tidak menunggu hingga lulus dan sudah memiliki pekerjaan tetap. Dengan tenangnya dia menjawab (seakan-akan dia sudah mempersiapkan segala bentuk pertanyaan yang akan ditanyakan orang tuaku, seperti belajar semalaman.. Hmm, tapi semalaman ga cukup kali yaa.. Karena setauku dia galau hampir 2 minggu lebih.. Hehe..) “Karena Saya ingin mendapatkan ketenangan, fokus, dan bisa lebih terarah menata tapak jalan yang akan dilalui. Belajar menambah berbagai pengetahuan yang belum saya kuasai. Saya ingin dapat menghafal Al-Quran, dan ini salah satu langkah yang membuat saya bisa fokus. Setelah lamaran pun saya tetap menjaga komunikasi dan jarak karena dia belum muhrim saya”. Bapak pun langsung tersenyum, kagum, mendengar jawaban Dia. Kekhawatiran telah sedikit sirna. Suasana menjadi semakin hangat. Kemudian Bapak menceritakan kenangan dulu saat melamar Mama.
Kenangan Lamaran Bapak dan Mama

Bapak dan Mama merupakan teman satu angkatan dan satu jurusan. Namun, berbeda 1 tahun. Bapak merupakan seorang yang calm pembawaannya. Pertemuan Bapak dan Mama terjadi pertama kali ketika Mama sedang mencari kos. Mama yang belum mendapatkan kos dan sedang menunggu temannya duduk di sebuah batu. Dari kejauhan, dari tempat kos Bapak. Bapak melihat mama. Dalam hati Bapak saat itu bergumam ‘Dia akan menjadi istriku kelak’. Padahal, mereka berdua belum saling kenal. Dalam kehidupan perkuliahan, Bapak sama Mama tidak begitu dekat. Mereka pernah sekos. Mama sering merasa bahwa Bapak itu kurang trendi. Namun dalam hubungan pertemanan tetap berjalan. Bapak pun lebih dulu lulus dibanding Mama, dan tentunya mempersiapkan masa depan(aka mencari calon istri). Tidak tahu yang mana yang duluan jatuh cinta. Saat Bapak akan melamar Mama, Bapak dulu menggunakan surat yang dikirimkan ke Mama terlebih dahulu. Secara ringkas isinya sebuah pertanyaan, ‘apakah Kamu sudah ada yang punya?’. Mama saat itu ngga langsung menjawab karena malu-malu, hingga akhirnya menjawab ‘belum’. Bapak pun datang ke rumah orang tua Mama di Solo, dan mengatakan ingin melamar putri mereka. Saat itu Bapak sudah menyiapkan modal SK menjadi PNS dosen. Jadi orang tua mama pun lebih tenang. Setelah ok, baru orang tua bapak dari Kebumen, datang bertamu ke Solo.

Saat menceritakan kisah lamaran, Mama pun ikut menimpali. Saat itu terjadi komunikasi antar kami berempat, namun Dia menjadi sasaran utama berbagai pertanyaan yang diajukan. Bapak kemudian mengajukan pertanyaan terkait kapan waktu yang diajukan Dia untuk melaksanakan akad karena bisanya seseorang yang melamar harus sudah siap menyodorkan tanggal, minimal bulan. Dia pun menjawab dengan mantap, “insya Allah, syawal atau September 2012 setelah Ais lulus”. Uwooow… Woooww.. Dalam hatiku terkaget-kaget. Sayangnya bulan yang diajukan ini, baru pemikirannya seoranh diri, belum dibicarakan dengan kedua orang tuanya. Orang tuanya belum setuju karena ingin kakak perempuannya terlebih dahulu. Jadi sebenarnya belum pasti. Bapak pun mengangguk-angguk.. Hmm.. Sambil berpikir tentunya karena kakak pertamaku akan menikah di bulan November 2012. Yang awalnya memikirkan pernikahan kakaku, tiba-tiba juga harus memikirkan pernikahanku. Tapi Bapak tetap setuju, karena lebih cepat, lebih baik. (Pelajaran yang bisa diambil dari sini yaitu saat pengajuan tanggal atau bulan ke calon, harus sudah direstui segala pihak ˆ⌣ˆ ).

#2 Tanggapan Mamaku Tersayang – Sahabatku, Pembimbingku, dan Segala Peran yang Menjadi Inspirasiku

Setelah Bapak memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menghilangkan kekhawatirannya, kali ini giliran Mama yang menyampaikan perasaan seorang Ibu terhadap laki-laki yang melamar anaknya. Ibu merupakan seorang wanita yang peka terhadap perasaan. Pertanyaan yang dilontarkan pun berhubungan dengan perasaan. Mama khawatir, selain Aku, apakah Dia juga menyebarkan proposal di tempat lain?. Apakah ada perempuan lain yang spesial di hatinya (selain ibu atau saudara kandungnya)?. Pertanyaan itu pun diajukan ke Dia, dengan bahasa yang diperhalus agar tidak menyinggungnya. Namun sepertinya saat itu Dia sedikit bingung dengan pertanyaan Mama dan Aku membantu menjelaskannya, “maksud pertanyaan Mama, apakah Kamu memiliki calon lain, kaya cadangan gitu, misal di sini iya, terus di tempat lain juga ada?”. “Tidak, hanya Ais,” jawabnya. Mama yang mendengar jawabannya terpesona. Menurut mama jawaban Dia saat itu menunjukkan keyakinan banget dan Mama senang. Raut kedua orang tuaku pun semakin cerah karena keberanian seorang pemuda yang belum lama dikenal, baru datang 2 kali, meminta langsung ke pemiliknya(walinya) di dunia, bahkan tanpa modal dan belum lulus. Bapak salut sekali dengan keberanian itu. Mungkin hampir setiap orang tua akan senang, ketika laki-laki langsung meminta, menunjukkan kalau si laki-laki serius, tidak hanya icip mencicip anaknya aja terus diputus.

Ada lamaran, ada jawaban, seperti yang kusebutkan di paragraf pertama. Bapak pun bertanya ke Aku yang tentunya pengambil keputusan tertinggi untuk menentukan waktunya kesiapan dalam menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang tak mudah dijawab. Harus berkonsultasi dulu kepada Allah Yang Maha Kuasa. Dengan pertimbangan yang setengah matang, aku menjawab setelah dia selesai sidang skripsi, yang notabennya itu 1 bulan lagi. Aku ingin banget waktunya panjang biar bisa nyari info yang lebih banyak, pikirku saat itu. Sontak dia langsung menjawab, “Kelamaan, jangan. Takut deg deg an juga abis sidang terus jawaban lamaran. Tegangan nunggu yang satunya”. Bapak pun menyetujuinya, takut Dia tak berkonsentrasi untuk sidang. Bapak pun mengajukan usulan, dengan bangganya, 10 Muharram aja, pas jatuh tanggal 6 desember 2011. Σ( ° △ °|||) kaget aku mendengarnya, berarti hanya 3 hari aku harus memutuskan, minggu, senin, selasa aku harus udah ada jawaban. Dia langsung setuju ‘lebih cepat, lebuh baik😀’. Karena permintaan Bapak, tak kuasa aku menolaknya. Mungkin iya, lebih cepat lebih baik, daripada digantungin.

Waktu pun berlalu, terasa lama. Satu detik seperti 10 detik. Hingga sudah terarah ke angka 5. Jam 5 sore. Mama sudah meminta izin untuk melaksanakan shalat ashar ketika di tengah-tengah pembicaraan dan kembali ke dapur sejak jam 16.30. Bapak sudah puas bertanya dan bercerita berbagai hal. Karena beliau melihatku yang dari tadi diam, hanya menimpali sedikit-sedikit, beliau pun memberi Aku kesempatan untuk bertanya ke Dia hanya berdua di ruang tamu. Beliau izin ke belakang.

Yap.. Akhirnya kesempatanku datang! (◦`⌣’)9 .. Rasanya sebenarnya sudah ingin menyerbu dia dengan segudang pertanyaan. Tapi malu kalau di depan Bapak sama Mama. Kalau digambarkan ekspresiku saat kesempatan bertanya langsung ke Dia, seperti harimau yang siap menerkam kelinci, hehe ˆ⌣ˆ . Pertanyaan, demi pertanyaan pun langsung memberontak keluar dari pikiranku.

#1 Kenapa Aku yang dipilih? Kenapa Aku, Kenapa Aku, Kenapa Akuuu(°•(>̯┌┐<)•°)?

Dia pun menjelaskan, bahwa Aku memiliki visi hidup yang sama dengan Dia. Banyak kecocokan di antara kami, menurutnya. Dan ketika melihat kriteria berdasarkan Islam: agamanya, materinya, keturunan, dan fisik, sudah terpenuhi. Dia bilang kalau dia menggunakan expert choice (sebuah tools, software, yang membantu dalam pengambilan keputusan, pasti kalau anak-anak TI hampir sebagian besar tau software ini) dengan memasukkan 4 kriteria tadi. Nah, sebagai anak TI kan aku tau cara penggunaannya, butuh pembanding di dalamnya, ngga bisa kalau subjek hanya 1. Berarti.. Berarti.. “Bukan hanya aku dunk yang Kamu pertimbangkan untuk Kamu lamar? Bukannya tadi pas bilang di depan Mama, ‘hanya Ais’?” Yang otomatis kutanyakan. Dia pun nyengir..😀, iya hanya kamu yang kulamar, dari pembanding-pembanding itu kamu yang paling besar nilainya. Ehm(batuk kecil), pambanding-pembanding? Berapa banyak yang dibandingkan dunk?? Hiks (˘̩~˘ƪ) (tanyaku dalam hati saat itu). Pertanyaa itu hanya berlanjut dengan “siapa yang lainnya?”. Dia hanya menjawab “Yang penting Aku sudah memilihmu”. Oke.. Aku menyerah saat itu karena dia bersikukuh ngga mau bilang.

#2 bagaimana pendapat orang tuamu tentang kamu yang melamar? Apakah sudah direstui?

Kemudian Dia pun bercerita tentang proses sampai pengambilan keputusan Dia datang melamar langsung ke orang tuaku (« mungkin bagian ini lebih baik Ant yang langsung bercerita ya..). Aku akan menceritakan secara ringkas, sesuai yang aku ingat dari jawabannya saat itu. Awalnya dia galau sekali, tidur ngga tenang, makan pun ngga tenang (agak sedikit dilebay in hehe), sampai teman-teman kosannya menyarankan dia untuk langsung melamar. Namun, hatinya belum mantap. Dia pun datang ke guru ngajinya untuk minta nasihat. Guru ngajinya pun menyarankan dia untuk melamar langsung ke yang punya (wali) atau berpuasa bila belum mampu. Setelah dari situ, Dia mantap untuk melamar. Kemudian dia minta restu dari orang tuanya. Ayahnya sudah merestui, namun ibunya belum karena saat itu Dia belum lulus, qo bisa berani-beraninya melamar anak orang. Walaupun Dia belum memegang restu dari ibunya, dia tetap mempersiapkan proses dan cara melamar. Awalnya Dia ingin meminta bantuan taaruf dari mentor liqo. Kemudian Dia meminta bantuan salah seorang temannya untuk cari tahu siapa mentorku. Temannya dia pun menghubungi temanku yang seliqo. Temanku yang seliqo menghubungi temanku yang lain. Dan temanku yang lain menghubungiku (seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku sudah mulai curiga sejak teman mentoringku senyum-senyum). Namun, karena info yang tak sampai-sampai dan agak sedikit ribet, akhirnya Dia memutuskan tak memakai cara itu. Satu-satunya cara hanya tinggal datang menemui orang tuaku. Dia pun bersiap-siap untuk datang ke rumah dan menyampaikan maksudnya di hari sabtu, 3 desember. Salah satu caranya yaitu dengan menelpon Bapakku langsung pada hari Rabunya, 30 nov. Dia mengatakan ke Bapak, kalau dia ingin bertemu untuk diskusi dan juga ingin menyampaikan ‘sesuatu’ (muusic.. Play.. ( ˘▽˘ )♬♫♪ sesuatu-syahrini.. Sesuatu yang ada di hatiku..). Tanpa menjelaskan ‘sesuatu’ itu apa ke Bapak. Tapi, orang tua punya feeling yang kuat, lamaran. Telpon pada hari Rabu ini, aku ngga tahu apa-apa. Bapak ngga bilang apa-apa, Dia juga ngga bilang apa-apa. Jadi sukses membuatku surprise. Izin dari mamanya pun akhirnya sudah di tangan, tinggal aksi. Sebelum berangkat ke rumahku di hari Sabtu, Dia kembali meminta doa restu dari orang tuanya, dan juga saran pakai baju apa. Awalnya mau pakai baju batik, tapi menurut mamanya jangan, pakai kemeja aja. Saat datang ke rumahku, Dia menggunakan kemeja hitam bergaris putih yang sudah sering ia gunakan saat kuliah. Orang tua Dia pun menyerahkan keputusan mengenai calon istri terhadap anaknya, jadi setuju aja, Aku sebagai perempuan yang dipilih olehnya. (Bagian ini, terkait restu dari orang tuanya, juga diceritakan di depan orang tuaku, jadi dia bercerita 2 kali).

#3 bagaimana dengan masa lalumu?

Di sini agak sedikit private, jadi ngga bakal diceritain banyak. Intinya, aku menanyakan berbagai hal tentang masa lalunya. Sekolah di mana, hubungan dengan teman atau lawan jenis, dan sebagainya. Dia menjawab dengan sedikit malu-malu, hhi (з´⌣`ε) .

#4 Bagaimana dengan ibadahmu?

Pertanyaan ini yang sebenarnya paling penting. Soal ibadah kepada Allah. Karena kelak Dia yang akan memimpinku, surgaku berada pada dirinya. Aku pun bertanya dengan cukup detail, terkait dengan bacaan al-Quran, shalat ke Masjid, dan amalan utama lainnya. Alhamdulillah, jawabannya memuaskan ˆ⌣ˆ . Aku paling suka saat Dia menjawab sering shalat ke Masjid, baik itu shubuh atau waktu shalat yang lainnya. Yup kriteria utama sudah terpenuhi. Alhamdulillah..

#5 Bagaimana dengan Perencanaanmu ke Depannya? Saat ini kan Kamu belum lulus dan belum ada pekerjaan.

Dia menceritakan tentang mimpinya yang pernah diceritakan sebelumnya kepadaku (ternyata dulu waktu kita diskusi, itu lagi masa penjajakan visi misi hidup apakah sama atau tidak). Dia memiliki mimpi untuk membangun Indonesia sebagai seorang technopreneur. Sebagai seorang mahasiswa jurusan teknik mesin, technopreneur adalah bidang yang paling cocok digelutin. Desain, dan mengembangkan sendiri peralatan yang bermanfaat. Dia mengkhususkan lebih ke arah technopreneur dalam bidang pertanian. Terutama karena di daerahnya, Pandeglang, banyak sda yang belum termanfaatkan. Karena itu dia ingin masuk ke dalam bidang itu. Dia sudah memulai usaha sejak kuliah untuk belajar menjadi wirausaha. (Semoga mimpimu terkabul Ant.. ˆ⌣ˆ ). Bila ditanya modal yang didapat untuk menghidupi istrinya kelak, kalau ditanya yang Dia punya sekarang, dari usahanya mengajar privat. Alhamdulillah, cukup mebiayai hidupnya saat kuliah. Aku pun berpikir, dalam listku, harta bukan yang utama, tapi tetap ada, yaitu Dia dapat bertanggung jawab menfkahi istrinya kelak.

#6 Apa menurutmu, kelebihan dan kekuranganku? Apa yang tidak kamu sukai, takut apa, dll..?

Aku pun menanyakan hal ini untuk mengetahui seberapa jauh Dia mengenalku. Dia pun menyebutkan beberapa hal, terutama Dia mengenalku saat Kita dalam tim lomba. Setelah usai Dia menyebutkan itu, aku hanya ‘oh..’ Habis bingung mau berkomentar apa. Aku pun menceritakan hal yang sama terkait kelebihan dan kekurangannya. Intinya tak ada yang terlalu fatal, karena manusia selalu berubah. Hingga menjadi kakek nenek, manusia pun akan terus belajar mengenal, ngga ada seseorang yang mengenal seseoarang dalam kehidupan 100%, kecuali salah seoarang di antara mereka telah meninggal.

Setelah pertanyaanku-pertanyaanku berhasil memberontak keluar, waktu telah menunjukkan pukul 6, dan adzan mahrib berkumandang. Dia dan Bapak pun berangkat ke Masjid. Aku langsung segere menemui mama, dan bilang ‘kalau ini bukan mimpi kan ma’.. Ada seseorang yang datang untuk melamarku, orang pertama. Apalagi aku berprinsip tidak pacaran. Kalau suka, ya langsung maju ke Bapakku. Berkali-kali aku minta diyakinkan kalau ini bukan mimpi. Kemudian aku shalat maghrib, di mana aku memohon petunjuk dari Allah, mengenai jawaban yang harus kuberikan. Selesai shalat aku bantu mama menyiapkan makan malam. Dia dan Bapak pun pulang dari Masjid dan dipersilahkan makan malam bersama. Kami sekeluarga makan malam bersama, dan mengobrol santai. Bertanya hal-hal yang tidak terlalu berat untuk dipikirkan. Suasana saat itu hangat. Selesai makan, sudah masuk waktu isya, Dia dan Bapak kembali berangkat ke Masjid. Sepulang dari Masjid, sekitar pukul 8 malam Dia izin pamit pulang kembali ke kosan di Depok. Sebelum Dia pulang, aku minta izin ke Dia untuk bertanya ke beberapa temannya (yang aku punya nomornya) untuk bertanya kepribadian dia sehari-hari, selama di kampus, kosan, hubungan pertemanan dan lain-lain dan juga meminta izin untuk melihat status-status Dia di twitter atau di facebook. Dia pun mengizinkan. Akhirnya dia pulang dan mengucapkan “gantian, sekarang kamu yang gugup dan kepikiran :D”. Hhuuu.. Kataku dalam hati.
Malam itu aku kembali mengobrol dengan Bapak dan Mama, minta pendapat dan saran dan mempersiapkan langkah untuk mengumpulkan informasi terkait dengan dirinya. Aku putuskan aku menghubungi 3 orang teman seangkatannya dan sejurusan, Entre, Cons, dan Iter..(Maaf ngga bisa memberi tahu nama asli mereka :D).

–berlanjut ke ‘Ada Lamaran, Ada Jawaban Bagian 2

^AIN

2 thoughts on “Ada Lamaran, Ada Jawaban Bagian 1

  1. Pingback: Ada Lamaran, Ada Jawaban Bagian 2 | antonaisyah

  2. Pingback: Ketika Dia Melamarku | antonaisyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s