Ketika Dia Melamarku

Hari itu, di Sabtu sore yang cerah dan hangat, 3 Desember 2011, pukul 13.30 Dia datang silaturahmi ke rumah untuk bertemu dengan bapakku untuk berdiskusi lanjut terkait tanah berhutan yang dimiliki oleh ayahnya. Aku tahu Dia akan datang, namun, saat itu aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Sehari sebelumnya, perasaanku sedang sedih dan kesal, aku lupa penyebabnya apa, inginnya, kalau bisa ingin ku ‘tuktuk’… Hehe ((‾⌣‾)v peace ya Ant..)
Akhirnya aku ngga mau menemani dia di ruang tamu, biarkan dia langsung berdiskusi dengan Bapak. Aku hanya mengantarkan minum dan kue ringan di sela-sela diskusi. Walaupun, diam-diam di balik gorden, aku mendengarkan pembicaraan mereka hehe ˆ⌣ˆ .

Flashback 1 – Pertama Kali Ku Ketahui tentang Dirinya

Dia, Anton Royanto Ahmad, merupakan seniorku saat Aku kuliah s1. Namun, Kami berbeda jurusan, Dia di hitam (teknik mesin), dan aku di putih (teknik industri). Aku mengetahui tentang dirinya saat Aku semester 2 dan 3. Banyak teman seangkatanku yang satu organisasi dengannya. Mengetahui dan mengenal itu tak sama, saat itu aku baru mengetahui.. ‘Oh, Dia Anton’ karena cukup sering temanku membicarakannya. Kami pun tak pernah mengobrol dan bertegur sapa, dan Aku sangat yakin saat itu Dia tak mengetahui tentangku.

Flashback 2 – Pertama Kalinya Ku Berbicara dengan Dirinya

Menginjak semester 4, Aku diajak oleh temanku masuk ke dalam organisasi yang sama dengan dirinya, walaupun saat itu Dia telah turun jabatan. Aku pun tetap belum mengenal dirinya. Hingga suatu hari, pemilihan ketua dari organisasi tersebut dan Dia menjadi moderator. Saat itu, Aku datang untuk mendukung temanku untuk maju menjadi ketua. Ketika dipersilahkan mengajukan pertanyaan, Aku salah seorang penanya. Karena Dia moderator, Dia pun secara tak langsung berkomunikasi denganku, walaupun saat itu berkomunikasi antara moderator dan si penanya.. Hehe../(_ε_)\ .. Mungkin saat itulah Dia mengenalku..🙂
Selama semester 4 hingga semester 5 (1 tahun) Aku ngga pernah berkomunikasi dengannya, melihat pun jarang, dan ngga pernah terpikirkan sama sekali. Hanya saja, Aku sering mendengar namanya dari curhatan temanku.. (You know what I mean..:D )

Flashback 3 – Komunikasi Langsung, Dua Arah

Menginjak semester 6, aku mencoba ikut organisasi BEM, dan cukup padat jadwal antara kuliah dan organisasi. Saat semester ini, merupakan saat-saatnya Aku ingin mencoba berbagai hal. Hingga pada suatu hari, Aku diajak untuk ikut lomba CHRONICS, sebuah lomba produk desain yang diadakan di UGM untuk teknik industri. Salah satu syaratnya minimal 2 orang ti, dan bebas sisanya. Tim ini sudah terbentuk dengan 3 orang TI, kurang 1 orang lagi dan inginnya mengajak join anak teknik mesin, yang jago desain tentunya. Temanku yang punya banyak kenalan teknik mesin pun bertanya ke Dia tentang anak mesin yang bisa mendesain. Dia bertanya “untuk apa?”. “Untuk ikut lomba desain” jawab temanku. “Kenapa harus nyari orang lain? Gw bisa gitu lho..” jawab Dia. Akhirnya, kami pun setim dengan Dia. Saat setim inilah, aku berkomunikasi dua arah dengannya. Saat itu Aku ngga pernah memikirkan bahwa dialah yang akan melamarku kelak. Kami berempat pun sering berdiskusi terkait dengan lomba itu. Seringnya berdiskusi, membuat kami berempat menjadi cukup dekat. Saat itu, terdapat beberapa sifatnya yang Aku kurang suka di dalam tim.. (Maklum, sering sinis kalau ke laki-laki.. Hehe). Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah, Kami lolos masuk semi final dan harus berangkat ke Yogyakarta. Saat lomba di Yogyakarta, terdapat konflik yang menyebabkan kami menjadi bertiga di dalam satu tim. Saat terjadi konflik itu, Dia hanya diam (saat itu Aku kesal sekali dengan Dia, karena Dia berstatus senior harusnya Dia lebih dewasa dibanding yang lain, dan berharap bisa bersikap tegas..). Kami pun berjuang, dan dengan bertiga ini, semakin mendekatkan hubungan pertemanan kami bertiga, walaupun Dia saat itu yang paling sering menjadi bahan ceng-ceng an.. Hihi😀. Perjuangan Kami pun terbayar dengan manis, Kami mendapat juara pertama yang tentunya meningkatkan kekompakkan tim. Setelah dari perlombaan itu, aku dan dia menjadi lebih sering komunikasi dua arah. Saat aku pergi KP ke Surabaya pun, komunikasi itu masih berlanjut. Kami lebih sering mendiskusikan berbagai hal, yang paling sering tentang agama, film, anime, dan beberapa kabar di kampus.

Flashback 4– Hikmah Lain dibalik Dislokasi Patella Lututku

Hingga pada suatu hari, Aku terjatuh dikarenakan tempurung lutut kiriku yang berpindah saat main bulu tangkis. Saat itu Aku merepotkan banyak orang (terima kasih banyak teman-teman, tak akan terlupa jasa kalian). Cidera itu membuatku meliburkan diri dari kuliah kira-kira 1.5 bulan karena rentannya tempurung berpindah, walaupun kaki hanya digerakkan sedikit. Di antara rentang 1.5 bulan itu, banyak temanku yang menjengukku, salah satunya dia bersama dengan temannya yang juga temanku. Ia menjengukku di hari minggu sore ketika hujan sedang turun. kami bertiga mengobrol berbagai macam hal, dimulai dari lututku, F1, cidera temanku, wanita, hobi, dll (waktu itu aku sudah sedikit menyadari gelagat mencurigakan dari dia, tapi kuabaikan). Hingga akhirnya orang tuaku datang, dan mereka izin pamit pulang. Dia ingin sekali berdiskusi dengan ayahku terkait dengan pohon jati, yang mana ayahku merupakan expert dalam bidang kehutanan. Aku saat itu ngga mau yang menjadi penyampai pesan, Aku bilang ke Dia untuk menyampaikan sendiri. Dia pun tiba-tiba, saat pamit dan menuju pintu pagar, Dia bilang ke Bapak “Pak, Saya ingin berdiskusi sesuatu dengan Bapak, boleh Pak?”. Saat itu bapakku yang sebenarnya juga kaget, dengan spontan menjawab, “oh, iya, iya, boleh..”. Mereka pun pulang, dengan wajah bersinar, terutama wajahnya. Bapak pun kemudian bertanya kepadaku, sesuatu yang ingin diajak diskusi oleh Dia itu tentang apa, Aku pun menjawab terkait dengan hutan-hutan gitu.

Flashback 5 – Pertemuan Kedua di Rumah bersama Bapak

Dia pun membuat janji dengan Bapak melalui Aku. Aku yang menjadi pesan penghubung ke Bapak. Saat itu, Dia dan Bapak janjian di hari Sabtu. Dia pun datang ke rumah dengan sedikit telat, dikarenakan membeli buah tangan terlebih dahulu. Bapak dan Dia mulai berdiskusi, sedangkan Aku menemani pembicaraan itu dengan kadang-kadang ikut menimpali. Diskusinya lebih bersifat satu arah, hehe.. Karena ketika Dia ditanya ‘apa lagi yang mau ditanyakan?’ Dia jawab ‘ngga tau..’ Lah, kan kocak, Dia kan yang ingin tau banyak tentang hutannya. Obrolan santai pun keluar jalur dari seharusnya. Hingga waktu ashar tiba dan dipotong shalat serta Dia yang izin untuk pamit pulang. Bapak saat itu berpesan kepada Dia untuk membawa gambar hutan jati miliknya itu. Dia pun mengiyakan. »» Berarti akan ada pertemuan selanjutnya dunk..

Flashback 6 – Beberapa Hari Sebelum tanggal 6 Desember 2011

Beberapa hari sebelum tanggal 6, sebenarnya sudah muncul gelagat yang mencurigakan terkait dengan dirinya. Dimulai dari kedua teman satu liqo yang sering tersenyum-senyum ketika bertemu. Dan juga status-status yang Dia update di twitter ataupun facebook yang menunjukkan bahwa Dia akan melakukan confess something, di mana Dia memohon doa dari teman-temannya. Teman-temannya mendukung. Kemudian dari gelagat teman kuliahnya yang mana Aku punya kontak bbmnya, mulai bertanya hal-hal mencurigakan terkait dengan dirinya. Serta dirinya yang terus memancingku saat kami sedang berdiskusi.. Memancing jawabanku sepertinya.. Dan semuanya terbongkar di tanggal 6 Desember 2011..

Back to first paragraph – 6 Desember 2011

Aku mendengarkan pembicaraan dibalik gorden. Mamaku yang melihat itu pun, menyuruhku untuk menemani Bapak. Aku pun menurutinya. Jadilah Kami bertiga (aku, bapak, dan dia) duduk di ruang tamu. Saat itu pembahasan sudah hampir habis. Seperti sudah tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Dia tampak terlihat gugup dan tegang saat Aku masuk untuk menemani Bapak. Bapak pun seperti sedang menunggu sesuatu. (Aku jadi teringat, beberapa saat sebelum Dia datang ke rumah, Bapak sempat bertanya padaku, bagaimana kalau dia melamar. Saat itu Aku menjawab, tidak mungkin Dia akan berani. Aku sangat yakin saat itu. Dia datang hanya untuk berdiskusi dengan Bapak). Tik, tok, tik, tok, waktu pun berjalan. Dan.. Adzan ashar pun berkumandang. Pembicaraan dihentikan. Bapak dan Dia bersiap-siap untuk shalat ke Masjid. Aku pun bersiap untuk shalat di rumah. Mereka pun berangkat. —- Aku sudah selesai shalat dan kembali duduk di ruang tamu, sembari menunggu mereka. Tiba-tiba, ketika Bapak pulang dan masuk ruang tamu. Wajahnya tampak berbinar-binar sambil memanggil-manggil Mama “Bu, Ibu, sini sebentar Bu, Anton ingin mengungkapkan sesuatu..”. Aku sudah SIAGA1. Apalagi dengan melihat mukanya tersenyum malu-malu. Terlihat merah. Mama pun datang ke ruang tamu dan duduk bersama. Kemudian, Bapak membuka pembicaraan “Jadi gini Ma, Ais,… Anton ingin melamar anak kita.. Tadi bilang ke Bapak pas di perjalanan pulang dari Masjid ke rumah”. Saat itu juga mukaku merona merah, surprise kaget, mulut agak sedikit menganga, melirik Bapak, melirik Mama, memelototi dia, seakan-akan itu tidak benar. Dia pun tersenyum, dan menegaskan kembali di hadapan kedua orang tuaku, Bapak dan Mama, “iya, Ibu, Bapak, saya ingin melamar anak Bapak, Aisyah”..

–berlanjut ke bagian ‘Ada Lamaran, Ada Jawaban Bagian 1‘–

^AIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s